Rabu, 15 Juni 2011

Peternak Ayam di Bali Raih Hingga Rp3 Juta/Panen


Minggu, 12 Juni 2011
KUTA - Para peternak ayam broiler dan petelur di Provinsi Bali berhasil mengembangkan produk peternakan dengan sistem biosekuriti dan kini komoditi mereka berhasil menembus pasar swalayan modern.

Sistem biosekuriti ini mulai dikembangkan oleh sekelompok peternak ayam broiler di Desa Salanbawak, Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan. Demikian pula sistem tersebut telah dikembangkkan para peternak petelur Desa Petang, Kabupaten Badung. Mereka selama ihi dilatih Pusat Biosekuriti Unggas Indonesia (PBUI).

"Di desa kami, sekira 30 peternak, minimal memiliki satu kandang yang berisi 5.000 ekor ayam broiler," kata Ketut Kana dan Nyoman Widiantara, peternak peternak Banjar Kekeran Desa Salanbawak, ditemui di Kuta, Minggu (12/6/2011).

Ia mengatakan, dengan menerapkan sistem biosekuriti ternyata mampu mengurangi tingkat kematian serta penyakit pada ternak mereka. Dengan begitu, maka keuntungan peternak bisa dirasakan karena terjadi peningkatan harga sekira Rp2.000.

"Dari 5.000 ternak ayam itu, peternak bisa memperoleh keuntungan hingga mencapai Rp2 juta-Rp3 juta per sekali panen," katanya menambahkan dalam acara pengenalan komoditi tersebut ke pebisnis dan masyarakat.

Sistem biosekuriti yang mulai dikembangkan peternak Bali, menurut Ni Putu Sariani, Provincial Project Coordinator Pusat Biosekuriti Unggas Indonesia (PBUI), juga dilaksanakan di tiga provinsi di antaranya yaitu Jawa Barat dan Sulawesi selatan.

Di Bali telah dilakukan survey di enam kabupaten guna memperoleh informasi dasar profil peternakan unggas di Bali. Para peternak ayam broiler di kedua desa tersebut, dinilai telah mengerti dengan pentingnya peningkatan manajemen dan biosekuriti bagi peternakan mereka yang didapat lewaat pelatihan PBUI.

"Produk peternakan mereka telah diterima di pasaran supermarket ternama di Denpasar, yang dibeli harga sedikit lebih tinggi, guna memberi insentif kepada peternak agar mau dan dapat menjalankan program biosekuriti dengan baik,” kata Sariani.

Ia menjelaskan, Biosekuriti merupakan usaha yang seharusnya dilakukan peternak untuk mencegah bibit penyakit masuk ke dalam peternakan, sehingga tidak menyebar dan menulari peternakan lainnya.

Yang menguntungkan lagi, usaha peternakan yang memanfaatkan biosekuriti tidak memerlukan biaya mahal. Bahkan, ada langkah-langkah bisosekuriti yang tidak memerlukan uang misalnya dengan membuat prosedur kerja standar atau SOP.

Sistem biosekuriti sejatinya merupakan proyek, yang lahir pascamerebaknya flu burung pada 2004 di Indonesia. Proyek tersebut dimotori Australia melalui badan penelitian (ACIAR) untuk mengetahui langkah-langkah biosekuriti yang murah dan efektif yang mau dilaksanakan oleh peternakan unggas di Indonesia .

Diharapkan, dengan proyek biosekuriti tersebut masyarakat akan memperoleh produk peternakan yang aman, sehat, utuh dan halal secara terus menerus, disamping juga memberikan insentif kepada peternak.
Sumber: okezone.com

Ternak Ayam Berumbun Untuk Sesaji di Bali

Ayam buras atau ayam kampung di Bali bernilai ekonomi tinggi. Selain sebagai ternak potong dan penghasil telur, permintaan ayam hidup untuk keperluan sesaji (upakara) cukup banyak, terlebih ayam yang memiliki bulu dengan paduan warna hitam, putih, merah, dan oleh warga Bali disebut ayam berumbun.

Ayam yang dipilih untuk upakara relatif masih kecil, usia sekitar tiga bulan. Namun harganya cukup mahal, terlebih ketika sedang musim upacara adat seperti mecaruan. Ayam ‘kecil’ atau ukuran setengah burung dara, dengan berwarna tunggal - putih, merah, atau hitam saja – oleh peternak dijual Rp 15.000 – Rp 20.000 perekor. Sementara ayam berumbun harganya lebih tinggi, bisa sampai Rp 25.000 satu ekor. Lain lagi bila membelinya di pasar, harganya bisa berlipat atau setidaknya Rp 5.000 lebih mahal.

Selain untuk memenuhi keperluan upakara keluarganya, kata Kepala Kantor Peternakan Denpasar Dewa Ngurah, ada kecenderungan warga memelihara ayam buras untuk dijual. “Dan hasilnya lumayan, bisa untuk membantu perekonomian keluarga,” kata Ngurah yang ditemui di kantornya, Jumat kemarin. Karena itu, pihaknya giat mendorong warga utamanya di kawasan pedesaan untuk tetap mempertahankan usaha peternakannya. Salah satunya adalah Banjar Cengkilung, Peguyangan Kangin, Denpasar.

Seorang warganya, Made Kanik, 45, awalnya beternak ayam buras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kadang piaraannya itu diambil telurnya atau dipotong untuk dikonsumsi, khususnya betina yang sudah tidak produktif bertelur. Tapi tujuan paling utama adalah untuk upakara.

“Kalau orang Bali, hampir setiap upacara agama perlu sesaji atau banten (upakara), termasuk ayam, itik, bahkan sampai kepala kerbau dan sebagainya. Tergantung jenis upacaranya. Yang paling sering diperlukan adalah ayam. Apalagi kalau upacara besar seperti mecaru, ini perlu ayam komplit, putih, hitam, merah dan berumbun. Jumlahnya tergantung kebutuhan. Kalau upacara-upacara biasa, seperti Tumpek Landep begini (akhir pekan kemarin warga Bali sedang melaksanakan Upacara Tumpek Landep yaitu mengupacarai segala barang atau peralatan yang terbuat dari besi, red),– ada yang memakai ayam dan ada yang tidak. Kalau kami, biasanya perlu satu ekor,” kata Kanik.

Ia menambahkan, di kampungnya terbiasa saling memberi ayam antar tetangga, sesuai kebutuhan. “Kalau keluarga saya perlu merah, ya dikasih merah. Gentian, kalau tetangga butuh ayam seperti kepunyaan saya sebagai upakara, akan kami kasih cuma-cuma. Tapi kan meminta terus-terusan sungkan. Minimal kami juga harus usaha memelihara sendiri,” lanjut Kanik, yang sejak 2001 lalu lebih serius beternak ayam buras. Warga di Banjar Cengkilung, menurutnya sudah lama menjadi peternak ayam buras dan tergabung dalam Kelompok Ternak Ayam Buras Sumber Rejeki.

Kanik yang juga seorang inseminator (tukang suntik hewan), saat sekarang dipercaya menjadi ketua kelompok tersebut. Anggotanya sudah 30 orang dengan kepemilikan ayam induk rata-rata 25 ekor.

Ayam induk akan bertelur setelah usia 6 – 8 bulan. Satu induk akan menghasilkan sampai 12 butir untuk satu kali masa bertelur. Bila vaksin rutin diberikan (tiga bulan sekali) dan makanannya mencukupi, induk tersebut bisa berproduksi telur sampai lima tahunan. Dalam setahun setidaknya 2 kali masa bertelur. Pakan ayam buras itu bisa berupa jagung, sisa nasi atau masakan lain, dedak (ampas padi) atau pelet yang mudah dan relatif murah memperolehnya. Bila induk sudah tidak produktif, selain jarang bertelur juga menunjukkan tanda-tanda fisik seperti jengger yang membesar.

Untuk ayam induk dan pejantannya dipilih dari anak ayam yang berwarna tunggal, merah saja, atau putih maupun hitam. Biasanya, peternak mengawinkan induk dan pejantan dari warna berbeda sehingga kemungkinan beranak berumbun lebih besar. ”Kalau induknya putih, pejantannya dipilih yang warna merah atau hitam, dan sebaliknya,” kata Kanik.

Masa penetasan memerlukan waktu sekitar 21 hari baik melalui pengeraman alami oleh induk maupun mempergunakan mesin penetas. Hanya perlu tempat atau sarang yang kering untuk menetaskan telur secara alami (dieram oleh induknya). Pada awal 2007, kelompok ternak tersebut membeli satu mesin penetas. Namun diakui Kanik, keberhasilannya baru 60 persen.

Tiga bulan sejak menetas, anak ayam sudah siap dipasarkan. Pada usia tersebut, warna bulu-bulunya mulai kuat. Namun seiring perkembangan usia selepas tiga bulan, warna bulunya bisa memudar.

Sejumlah warga dari seputaran Denpasar, menurut Kanik sudah terbiasa membeli langsung ke kelompoknya. Bila anak-anak ayam belum semuanya terjual, salah seorang pedagang pengepul akan memborongnya. ”Jadi selama ini selalu saja laris, dan kadang kami tidak bisa memenuhi jumlah permintaan. Terlebih ya kalau lagi musim upacara besar, sampai kami meminta pasokan anak ayam dari kelompok ternak lain,” imbuh Kanik sambil memperlihatkan ayam-ayamnya yang sengaja tidak dikandangkan.

Kanik mengaku sangat mudah dan menguntungkan beternak ayam buras, ”Selain bisa makan dagingnya, anaknya cukup laku di pasaran. Pangannya pun gampang dicari.” Idealnya, lanjut Kanik, ayam-ayam tersebut dikandangkan sehingga lebih mudah pengawasannya terlebih bila ada penyakit menyerang. Selama ini, satu-satunya penyakit yang pernah ada adalah tetelo (ND) yang tahun lalu menyebabkan total populasi menurun dari lebih 3000 ekor menjadi 1.000 ekor saja.

Merebaknya kasus flu burung diakui sempat mengkhawatirkan. Hanya, tegas Kanik, kelompoknya langsung melakukan penyemprotan dan vaksin. Dengan koordinasi kelompok ternak, sambungnya, antar anggota bisa saling membantu baik dalam penjualan maupun proses vaksinasi. Menurut dia, Pemkot Denpasar memberikan bantuan vaksin gratis kepada kelompoknya dengan jumlah sesuai kebutuhan. Termasuk memberi 100 induk ayam buras untuk mendorong peningkatan populasi hasil ayam berumbun.

Karet Tetap Memiliki Prospek Yang Cerah

Medan, 20/1 (www.antarasumut.com).- Tanaman karet yang akrab disebut dengan pohon para, tetap memiliki prospek yang cerah, walau pun ikut terhempas kriris ekonomi global, yang menyebabkan harganya ambruk, kini secara perlahan-lahan tapi pasti bangkit kembali. Harga di pasaran dunia menunjukkan kecenderungan menaik, kendati pun belum pulih seperti semula. Harga penutupan di Bursa Karet London pada tanggal 14 Januari yang baru lalu mencapai US$ 146,50/metrik ton  atau sedikit meningkat dibandingkan dengan sehari sebelumnya sebesar US$ 140,80,-. Harga bahan olah karet  rakyat (bokar) Sumut di pabrik dalam pekan ini juga cenderung meningkat menjadi Rp 12.500/kg sampai Rp 13.000/kg dibandingkan dengan pekan lalu yang harganya lebih rendah sekitar Rp 500/kg.
Walau pun harga karet menunjukkan kecenderungan meningkat, tapi Sumut tampaknya masih belum mampu memenuhi permintaan pasaran ekspor, karena terbatasnya suplai dari para petani karet. Pada musim penghujan, petani tidak dapat menyadap pohon karet, yang otomatis produksi getah menurun. Berbeda dengan tanaman sawit yang dipanen setiap dua minggu sekali, pohon karet harus “disembah” setiap pagi hingga getahnya mengucur. Penderesan harus dilakukan pada pagi dini hari, sehingga getah yang keluar dari luka di batang dapat mengalir deras. Sedangkan pada sore hari akan cepat mongering dan mengeras.
Karet masih tetap menjadi primadona ekspor non migas Sumut, sejak masa kolonial hingga era reformasi dewasa ini. Devisa dari ekspor karet dewasa ini  setiap tahunnya minimal sekitar US$ 1,5 milyar, yang memberikan bukti tanaman karet tetap memiliki prospek yang cerah di masa depan. Di awal tahun 1950-an ketika meletus perang Korea, harga karet melonjak tajam, bahkan karet dari pohon rambung merah laku dijual. Perang di semenanjung Korea itu mendongkrak petani karet hidup berkecukupan, berdasarkan standar kehidupan di masa itu. Petani bukan saja memperbaharui rumahnya, tapi juga memiliki sepeda buatan  Belanda, lampu pompa Petromax buatan Jerman, radio buatan Belanda dengan baterai sebesar peti sabun dan sebagainya. Perang membutuhkan banyak karet dan begitu perang usai, harga karet pun kembali anjlok.
“Demam sawit” mengakibatkan petani karet mengkonversi tanaman karetnya dengan sawit yang diperhitungkan lebih menjanjikan. Akibatnya lahan tanaman karet pun semakin menciut, sedangkan pembinaan terhadap petani karet berkesan seperti menjadi beban tambahan bagi petugas instansi petanian. Padahal karet memberikan lapangan kerja yang lebih luas di masa sulit seperti sekarang ini, ketika banyak industri mem-PHK para pekerjanya. Memang ada usaha dari kalangan peneliti di negara-negara Barat untuk menciptakan karet sintetis dari bahan minyak bumi sebagai pengganti karet alam. Akan tetapi daya lentur (elastisitas)-nya tidak sebaik karet alam. Ban sepeda sampai pesawat terbang tetap membutuhkan karet alam. Untuk itu doronglah petani agar lebih banyak mengembangkan tanaman karet alam karena daya lenturnya mampu menghadapi krisis ekonomi global. (R01/MOS)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar